6 Rukun iman dalam Islam, pengertian, urutan, dan maknanya

Image
Manusia memiliki kedudukan paling tinggi di dunia, dibanding dengan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Namun kedudukan manusia di hadapan Allah itu berbeda satu dengan lainnya. Tinggi rendahnya kedudukan manusia, dinilai dari keimanannya. Dalam ajaran Islam, terdapat pilar atau tiang agama.

Di dalam Islam ada dua rukun yang berfungsi sebagai pilar ajaran, yakni rukun Islam dan rukun iman. Rukun islam terdiri dari lima poin. Dimana Rukun Islam terdiri dari mengucapkan dua kalimat syahadat, melaksanakan sholat lima waktu sehari semalam, berpuasa di bulan Ramadhan, zakat fitrah, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

Dikutip dari laman Kemenag, apabila seseorang melaksanakan dua rukun (Iman dan Islam) tersebut itu sesuai dengan syariat Islam, maka sempurnalah ia menjadi seseorang yang beragama Islam," tutur Babak Haji Moh. Ali kossah selaku Ketua MUI Kabupaten Timor Tengah Utara.

Lantas apa saja dan pengertian, makna dari rukun iman? Berikut penjelasan lengkap mengenai rukun i…

Mengenal Talaqqi Dalam Metode Baca Quran


Assalamualaikum sahabat kabar Islami semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat, amiin. Sekarang admin akan menyampaikan sedikit tentang metode baca Quran dengan Talaqqi.


Talaqqi ataupun Musyafahah merupakan metode belajar al-Qur’an yang mensyaratkan perjumpaan secara langsung antara murid dengan guru. Talaqqi juga mensyaratkan gerak mulut murid harus mengikuti gerak mulut yang dicontohkan guru. Karenanya talaqqi juga disebut dengan talaqqi syafahi atau musyafahah yang secara bahasa dapat diartikan “adu lambe” atau saling mengikuti gerakan bibir.
Salah satu landasan epistemologi talaqqi syafahi atau musyafahah adalah QS. Al-Qiyamah ayat 16:
 “(Sekali-kali) jangan kau (Muhammad) gerakkan lidahmu karena hendak cepat-cepat menguasainya”.
Wahbah al Zuhaili dalam Kitabnya “al Wajiz” menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan pada Nabi tentang cara mengikuti wahyu di dalam membaca al-Qur’an atau teguran Allah kepada Nabi untuk tidak membaca al-Qur’an sebelum Jibril selesai membacakannya terlebih dahulu hingga selesai.
Ayat tersebut secara langsung juga turut menegaskan keistimewaan tradisi periwayatan (transmition method) yang hanya dimiliki Islam sebagai salah satu pendekatan memperoleh pengetahuan khususnya di dalam proses mempelajari al-Qur’an. Karenanya cukup beralasan ketika Khalid Abdurrahman al-‘Akk dalam “Ushul al Tafsir wa Qawa’iduhu” mendefinisikan al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan kepada Rasul SAW dan diriwayatkan secara mutawatir.
Narasi نقل عنه منقولا متواترا menunjukkan bahwa SOP pembelajaran al-Qur’an sudah terpola melalui wahyu. Karenanya, apapun dialek atau logat yang berkembang di masyarakat harus mengikuti dialek bacaan al-Qur’an. 
Femomena dialek sebagian kecil masyarakat misalnya, masyarakat Banyumasan yang sulit melafadzkan huruf ع menjadi ‘nga’, orang semarangan yang terbiasa melafadzkan ز menjadi ‘ya’ (zainuddin menjadi yainuddin) bahkan orang Mesir sendiri membaca huruf ج dengan ‘ga’. So, di Mesir tidak akan ditemukan masjid karena yang ada “masgid” .
Namun ragam dialek ini meski menjadi habit mapan di masyarakat, tidak berarti dimaafkan atau dimaklumi di dalam membaca al-Qur’an. 
Dalam taraf komunikasi, boleh jadi ragam dialek ini menjadi seni peradaban namun menjadi tidak beradab jika dijadikan alibi untuk tidak belajar membaca al-Qur’an secara maksimal. Fakta membuktikan, seiring usaha seseorang bertalaqqi syafahi di dalam membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, Insya Allah pasti berhasil dan ragam dialek di atas tetap lestari pada tempat lain yang elok.




Comments

Popular posts from this blog

Makan Dengan Secukupnya Dalam Islam

Kajian Konsep Pendidikan Anak Dalam Islam

25 Nama Nama Nabi Yang Wajib Diketahui